NAMA : BENANDA MAULANA
WAHANANTA
NIM : E3119027
PRODI : D4 DEMOGRAFI &
PENCATATAN SIPIL
1.
Teks “Genangan” oleh
Rainy M.P. Hutabarat* (Kompas, 6 Jan 2018)
Untuk teks ini membahas tentang
perbedaan kata «banjir» dengan «genangan». Topik ini ramai diperbincangkan
karena pada tahun 2015 saat Djarot, wakil gubernur DKI waktu itu, mengatakan
bahwa banjir setinggi 70 sentimeter di Kampung Arus RW 02, Kramatjati, Jakarta
Timur, hanyalah genangan. Warganet pun tersentak dan riuh. Masyarakat
mempermasalahkan kata «genangan» dalam konteks kalimat tersebut. Kalau menurut
saya, wajar saja terjadi kesalahan dalam pengucapan karena wakil gubernur DKI
itu berkomentar secara langsung. Sedangkan «genangan» sendiri memiliki arti
tempat/daerah yang berair. Akan tetapi,masyarakat memandang 2 kata tersebut
bukan menurut KBBI melainkan menurut kata yang sering digunakan setiap hari.
Masyarakat Indonesia pada umumnya mengartikan «banjir» yaitu suatu
musibah/daerah yang berair dalam skala besar yang melanda suatu tempat,
sedangkan mengartikan kata «genangan» yaitu suatu tempat yang berair dalam
skala kecil. Padahal di dalam KBBI menjelaskan bahwa 2 kata tersebut memiliki
arti yang hampir sama. Opini ini dipicu salah satunya oleh pernyataan pak
Djarot, wakil gubernur DKI waktu itu, mengatakan bahwa banjir setinggi 70
sentimeter di Kampung Arus RW 02, Kramatjati, Jakarta Timur, hanyalah genangan.
Untuk mengetahui apakah menggantikan kata banjir dengan genangan apakah sah sah
saja, kita bisa crosscheck pengertian/ makna mengenai genangan dan banjir. Jika
merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia , banjir memiliki arti 'berair banyak
dan deras, kadang-kadang meluap; air yang banyak dan mengalir; peristiwa
terbenamnya daratan karena volume air meningkat'. Sedangkan genangan memiliki
arti 'tempat atau daerah yang berair'. Ditambah lagi BNPB menyatakan bahwa
Genangan yang diakibatkan oleh air yang meluap dari kali atau selokan, ya
banjir itu sendiri.
2.
Teks “Maksud dan Niat”
oleh Bambang Kaswanti Purwo* (KOMPAS, 25 Maret 2017)
Untuk teks ini, menurut saya
membahas tentang makna kata «maksud» dengan «niat». Menurut pendapat saya, 2
kata tersebut bersinonim dalam beberapa konteks kalimat. Contohnya, «saya tidak
memiliki niat/maksud yang buruk kepada anda». Dalam konteks kalimat
tersebut,makna kata «maksud» dan «niat» dapat saling menggantikan dan mempunyai
makna yang sama yaitu «tujuan». Untuk konteks kalimat yang pertama, kata «niat»
memiliki arti janji/nazar/harapan. Sedangkan kata «maksud» dalam kalimat kedua
memiliki arti yaitu makna yang terkandung dalam sesuatu. Jadi, maksud dan niat
tidak merupakan kata yang persis.
3.
Teks “Kata-Kata yang
Memuai” oleh Bagja Hidayat* (Majalah Tempo, 12 Jun 2017)
Untuk teks ini, menurut saya
ketika kita melakukan percakapan atau menjalin suatu komunikasi yang terpenting
adalah paham maksud satu sama lain, tanpa harus memikirkan apakah kata yang
digunakan baku atau tidak. Selama kita bisa saling memahami menurut saya tidak
masalah. Memang seiring dengan berkembangnya jaman tentunya akan banyak
kata-kata yang memuai, kata-kata baru, dan sebagainya. Kita juga harus bisa
memposisikan diri antara berbicara di depan umum atau hanya sekedar bercakap
dengan orang lain. Untuk kalimat yang pertama yaitu pihak Indonesia berkata
«wah,mau hujan». Pihak warga asing memiliki pemahaman kata «mau» yaitu bermakna
«ingin». Padahal dalam konteks kalimat tersebut, kata «mau» berarti «akan
terjadi». Menurut saya, pada kasus ini sangat wajar jika terjadi. Karena warga
asing tentunya mengetahui bahasa Indonesia dalam bentuk baku dengan susunan
kalimat yang baku seperti S-P-O-K. padahal, bentuk bahasa Indonesia sangatlah
beragam. Jadi wajar saja jika warga asing susah memahami kalimat tidak baku
yang sering diucapkan masyarakat Indonesia, karena kecil kemungkinan jika
masyarakat Indonesia harus berdialog dengan bahasa baku secara terus-menerus.
Tentunya mereka harus memahami kondisi dan situasi dalam pemakaian bahasa.
Seperti halnya kita belajar bahasa asing, tentunya kita akan belajar mulai dari
bahasa baku yang umum digunakan dalam Negara tersebut. Setelah lama mempelajari
bahasa baku, maka sedikit demi sedikit akan merambah pada bahasa tidak
baku/bahasa gaul dalam Negara tersebut.