Kamis, 14 Mei 2020

HASIL DISKUSI DAN OPINI


NAMA            : BENANDA MAULANA WAHANANTA
NIM                : E3119027
PRODI           : D4 DEMOGRAFI & PENCATATAN SIPIL

1.      Teks “Genangan” oleh Rainy M.P. Hutabarat* (Kompas, 6 Jan 2018)
Untuk teks ini membahas tentang perbedaan kata «banjir» dengan «genangan». Topik ini ramai diperbincangkan karena pada tahun 2015 saat Djarot, wakil gubernur DKI waktu itu, mengatakan bahwa banjir setinggi 70 sentimeter di Kampung Arus RW 02, Kramatjati, Jakarta Timur, hanyalah genangan. Warganet pun tersentak dan riuh. Masyarakat mempermasalahkan kata «genangan» dalam konteks kalimat tersebut. Kalau menurut saya, wajar saja terjadi kesalahan dalam pengucapan karena wakil gubernur DKI itu berkomentar secara langsung. Sedangkan «genangan» sendiri memiliki arti tempat/daerah yang berair. Akan tetapi,masyarakat memandang 2 kata tersebut bukan menurut KBBI melainkan menurut kata yang sering digunakan setiap hari. Masyarakat Indonesia pada umumnya mengartikan «banjir» yaitu suatu musibah/daerah yang berair dalam skala besar yang melanda suatu tempat, sedangkan mengartikan kata «genangan» yaitu suatu tempat yang berair dalam skala kecil. Padahal di dalam KBBI menjelaskan bahwa 2 kata tersebut memiliki arti yang hampir sama. Opini ini dipicu salah satunya oleh pernyataan pak Djarot, wakil gubernur DKI waktu itu, mengatakan bahwa banjir setinggi 70 sentimeter di Kampung Arus RW 02, Kramatjati, Jakarta Timur, hanyalah genangan. Untuk mengetahui apakah menggantikan kata banjir dengan genangan apakah sah sah saja, kita bisa crosscheck pengertian/ makna mengenai genangan dan banjir. Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia , banjir memiliki arti 'berair banyak dan deras, kadang-kadang meluap; air yang banyak dan mengalir; peristiwa terbenamnya daratan karena volume air meningkat'. Sedangkan genangan memiliki arti 'tempat atau daerah yang berair'. Ditambah lagi BNPB menyatakan bahwa Genangan yang diakibatkan oleh air yang meluap dari kali atau selokan, ya banjir itu sendiri.

2.      Teks “Maksud dan Niat” oleh Bambang Kaswanti Purwo* (KOMPAS, 25 Maret 2017)
Untuk teks ini, menurut saya membahas tentang makna kata «maksud» dengan «niat». Menurut pendapat saya, 2 kata tersebut bersinonim dalam beberapa konteks kalimat. Contohnya, «saya tidak memiliki niat/maksud yang buruk kepada anda». Dalam konteks kalimat tersebut,makna kata «maksud» dan «niat» dapat saling menggantikan dan mempunyai makna yang sama yaitu «tujuan». Untuk konteks kalimat yang pertama, kata «niat» memiliki arti janji/nazar/harapan. Sedangkan kata «maksud» dalam kalimat kedua memiliki arti yaitu makna yang terkandung dalam sesuatu. Jadi, maksud dan niat tidak merupakan kata yang persis.

3.      Teks “Kata-Kata yang Memuai” oleh Bagja Hidayat* (Majalah Tempo, 12 Jun 2017)
Untuk teks ini, menurut saya ketika kita melakukan percakapan atau menjalin suatu komunikasi yang terpenting adalah paham maksud satu sama lain, tanpa harus memikirkan apakah kata yang digunakan baku atau tidak. Selama kita bisa saling memahami menurut saya tidak masalah. Memang seiring dengan berkembangnya jaman tentunya akan banyak kata-kata yang memuai, kata-kata baru, dan sebagainya. Kita juga harus bisa memposisikan diri antara berbicara di depan umum atau hanya sekedar bercakap dengan orang lain. Untuk kalimat yang pertama yaitu pihak Indonesia berkata «wah,mau hujan». Pihak warga asing memiliki pemahaman kata «mau» yaitu bermakna «ingin». Padahal dalam konteks kalimat tersebut, kata «mau» berarti «akan terjadi». Menurut saya, pada kasus ini sangat wajar jika terjadi. Karena warga asing tentunya mengetahui bahasa Indonesia dalam bentuk baku dengan susunan kalimat yang baku seperti S-P-O-K. padahal, bentuk bahasa Indonesia sangatlah beragam. Jadi wajar saja jika warga asing susah memahami kalimat tidak baku yang sering diucapkan masyarakat Indonesia, karena kecil kemungkinan jika masyarakat Indonesia harus berdialog dengan bahasa baku secara terus-menerus. Tentunya mereka harus memahami kondisi dan situasi dalam pemakaian bahasa. Seperti halnya kita belajar bahasa asing, tentunya kita akan belajar mulai dari bahasa baku yang umum digunakan dalam Negara tersebut. Setelah lama mempelajari bahasa baku, maka sedikit demi sedikit akan merambah pada bahasa tidak baku/bahasa gaul dalam Negara tersebut.